Jumat, 28 Juli 2017

Parenting dengan Konsep The Model " Mencetak Generasi Sukses Bahagia dan Kontributif Membangun Peradaban

Assalamu'alaikum wr. wb

Alhamdulillah di kesempatan akhir bulan syawal bisa mengikuti acara syawalan di Masjid Syuhada Yogyakarta yang diadakan oleh TK Masjid syuhada. Syawalan kali ini ada yang berbeda dari syawalan biasanya, kebetulan saya sebagai wali murid TK yang baru mendaftar di TKMS Yogyakarta, anak kedua saya Muhammad Abiyyu Alpha Alafghani.
Konsep parenting dengan THE MODEL yang sudah terbit bukunya diboyong ke dalam kelas ini. Langsung dibawakan oleh beliaunya Bapak Nopriadi, Ph.D sebagai penulis buku THE MODEL.
Dari pemaparanmaterinya ada beberapa yang berhasil saya catat untu pengingat saya pribadi di masa yang akan datang.
konsep parenting dengan THE MODEL menitik beratkan pada konsep "tuning" atau setting pada pribadi anak kita.
Semua manusia dilahirkan dengan modal naluri:
1. Rasa Menyayangi
    Dari rasa menyayangi inilah kemudian manusia bisa berkembang.
    Ibu menyayangi anak, anak menyayangi ibu, suami menyayangi istri danseterusnya.
    Dari rasa menyayangi inilah muncul kemauan untuk berkorban. coba kita bayangkan apapbila tidak ada rasa menyayangi mungkin saja akan berasa direpotkan saat hamil, setelah melahirkan semakin merasa idrepotkan dengan tetek bengek urusan kebayian, tetapi ternyata tidak demikian. setiap ibu tidak pernah merasa direpotkan dengan kehamilannya, maupun dengan melahirkan bayi yang memperjuangkan dengan jaminan nyawa, pun setelah anak lahir dengan tangisannya dan segala hal repot lainnya hingga anak bisa mandiri. bayangkan butuh berapa lama untuk menunggu anak mandiri? dan apakah jika dibiarkan begitu saja anak juga pasti akan mandiri? tidak. anak mulai dalam kandungan dengan segala "hal merepotkan" lainnya akan selalu butuh rasa sayang dalam bentuk bermaca-macam. Rasa sayang bisa dalam bentuk diurus, disusui, diajari dengan sabar, diajakbermain dengan sabar dan sebagainya. Rasa sayang itulah yang membentuk manusia mempunyai budaya. rasa sayang yang merupakan anugrah dari Allah yang membuat manusia berkembangbiak dengan segala budaya yang ada.
apakah rasa sayang saja cukup? tentu saja tidak. mendidik anak hanya dengan rasa sayang saja justru akan menjadikan kita sebagai "TOXIC PARENT".

Toxic parent adalah orangtua yang mengajarkan kejelekan terhadap anaknya karena rasa sayang. sebagai contoh, ayah yang minum-minuman beralkohol didepan anaknya yang masih balita, ketika ayahnya minum minuman itu dari botol, kemudian anaknya nangis minta minum, sama ayahnya diberikan minum susu dalam botol, tetapi anak meronta-ronta tidak mau susu, maunya minuman yang diminum ayahnya yaitu minuman beralkohol sambil nangis teriak guling-guling, oleh orangtuanya malah ditertawakan dengan bangga.
Toxic parent juga dapa berupa kebiasaan orangtua yang diikuti langsung oleh anaknya, misalnya seorang ibu yang teriak kepada anak sulungnya sewaktu sedang memarahi, maka akan ditiru langsung oleh adik si sulung menirukan teriakan ibunya kepada kakaknya.

Mendidik anak tidak cukup dengan rasa sayang, tetapi membutuhkan ilmu, ilmu apakah?
1. Ilmu Islam
2. Ilmu Sunatullah, seperti parenting dan lain-lain.
Tanpa Ilmu, oang tua yang disulap hanya dengan menikah dan melahirkan anak bisa melakukan malpraktek sebagai orangtua.
sudah pasti orang yang menikah kemudian mempunyai anak akan disebut dengan orangtua, tetapi jangan orangtua yang malpraktek, maka lengkapilah ilmu mendidik anak.

Profesi yang paling penting di dunia ini adalah: Orangtua
Tindakan malpraktek pada perilaku orangtua akan melahirkan kerusakan perilaku anak terutama pada kalangan remaja, pemerkosaan, pembunuhan, aborsi, klitih di kalangan remaja dan lain sebagainya.

Dalam mendidik anak dikenal ada beberapa type problem/masalah:
1. masalah sederhana
2. masalah rumit ( sekelas masalah bagaimanan membuat pesawat terbang dll)
3. masalah kompleks (cara yang sama belum tentu hasil sama)
Parenting menempati level masalah kompleks, karena pada penerapan cara yang sama diterapkan kepada anak yang berbeda hasilnya akan berbeda. Mendidik anak pertama dan kedua oleh orang tua yang sama dan cara yang sama hasilnya belum tentu kedua anak sama kualitasnya. inilah kerumitan yang membutuhkan kecerdasan dalam mendidik buah hati.

Bila kita cermati dilingkungan kita, kebanyakan jawaban atas pertanyaan siapakah yang bertugas mendidik anak?tentu dominan jawaban akan menyerukan "Ibu". tetapi ternyata sebenarnya yang bertugas mendidik anak adalah seorang ayah. Setiap ayah mempunyai tugas mendidik anaknya, dibantu dengan ibunya. terus kenapa setiap acar parenting pasti akan didominasi kaum hawa disetiap sesi? inilah PR kita. kaum bapak harus mulai menyeimbangi semangat ibu untuk belajar ilmu parenting agar mendapat kesepakatan dan kekompakan mendidik buah hati.

Konsep Parenting Ala The Model:
Konsep tuning
Konsep tuning diambil dari konsep dunia robot. merupakan konsep dasar mendidik anak. dari konsep ini diawalai dari pertanyaan bagaimana sebuah robot bisa berperilaku seperti manusia, tetapi bukan dikendalikan dengan remot kontrol, melainkan dari kecerdasan yang disetting ke dalam "otak" robot dalam bentuk "kata kunci" yang harus di setel atau di tuning.
nah dari konsep robot itulah dapat diterapkan pada kehidupan anak kita dimana sejak lahir masih polos, bagaimana kita mencoretnyadengan kata kunci itulah kemudian kita sebut dengan men-tuning anak.
Setting / Tuning kata kunci itulah yang menjadi rahasia kecerdasan dan kepribadian anak kita.

Terapkan kepada anak kita konsep MODEL DIRI, yang akan menentukan kecerdasa manusai ( cerdas intektual, cerdas spiritual, cerdas emosional)

Manusia dibentuk oleh 2 macam hal:
1. Genetik,
2. Lingkungan
Genetik sudah tidak dapat dirubah, sedangkan lingkungan masih dapat dirubah, lingkungan bisa dalam bentuk keluarga, teman, guru, TV, pergaulan sesama anak, masyarakat, negara hingga dunia.

Sekian banyak faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pembentukan anak kita, maka kita harus lebih waspada dan harus bisa menglahkan lingkungan lain yang pengaruhnya tidak bagus terhadap perkembangan anak kita. Kita harus lebih unggul dibanding lingkungan lain.

Disinilah tantangan tuning kita terhadap anak kita, kita sudah mengetahui berbagai nilai-nilai baik dalam kehidupan tetapi apakah anak nyaman dan mau mengikuti apa yang kita ajarkan/informasikan? apakan anak tidak akan memilih lingkungan lain misal lingkungan temannya yang lebih asyik menurut mereka?

Sehingga bagaimanakah sebaiknya kita Men"tuning" atau Menyetel manusia?
Teknik tuning ada 4:
1. High emotional/Intensity
2. Autority /otoritas dari orangtua
3. Repetition / berulang-ulang selama bertahun-tahun
4. Learning & Knowledge

- High Emotional: maaf untuk penjelasan ini kebetulan saya menggalkan kelas karena bawa balita yang mulai bosan dengan aktifitas "duduk medengarkan" ini

- Autority : Otoritas dari orangtua, guru, guru mengaji dan lingkungan yang baik akan sangat berperan dalam pembentukan anak. hanya kita harus memastikan bahwa gurunya anak-anak memang "sebaik" kita atau lebih baik dari kita, jangan sampai guru dan orang dewasa lainnya yang memiliki posisi istimewa ini kualitas mendidiknya jauh di bawah kita. pastikan guru-guru yang diberikan otoritas memang kualitas mendidiknya setimpal dan senada dengan kita.

- Repetition/pengulangan yang bertahun-tahun:
misalnya: dibiasakan anak sejak dini sholat di masjid bersama orangtua, termasuk sholat subuh, meski anak masih dalam keadaan tidur dan ke masjid di gendong, selama orangtua sholat di masjid anak masih tidur, kemudian pulang di gendong lagi hingga di rumah masih tertidur. Meskipun anak selama perjalanan berangkat ke masjid hingga pulang lagi kerumah tetap dalam keadaan tidur tetapi alam bawah sadarnya akan membetuk memory aktifitas subuh di masjid. Konsisten berulang - ulang bertahun- tahun ini akan membentuk anak menjadi anak yang setiap mendengar adzan langsung bergegas ke masjid untuk ikut sholat berjamaah.

- Larning dan Knowledge: maaf yang ini juga sedang tidak konsen mengikuti materi di kelas. bisa diartikan ilmu yang kita pakai untuk mendidik harus berdasarkan sumber yang jelas dan kuat kebenarannya

nah, dunia anak kita masing-masing mempunyai atmosfer yang mengelilingi mereka, atmosfer itu dari yang paling dekat hingga paling jauh adalah: keluarga, mayarakat/komunitas, negara dan dunia.

Keluarga: atmosfer ini yang paling kuat membentuk anak, sehingga paling harus bisa memberikan Tuning yang baik buat anak.
Komunitas: Misalnya di Jogja, anak-anak remaja SMP/SMA mempunyi kebiasaan keluar rumah habis isya' hingga tengah malam bahkan sampai subuh baru pulang hanya untuk nongkrong di pinggir jalan. hal ini memicu tindakan klitih yang dapat mempengaruhi sangat buruk terhadap pembentukan pribadi anak.
Negara: dengan Undang- undang yang diberlakukan, misalnya UU tentang kebebasan pers yang akan membiarkan penyiaran acara-acara televisi yang mungkin kurang berpengaruh baik terhadap anak kita.
Dunia:  atmosfer ini diwakili hanya dengan sebuah "GADGET". Dari satu benda kecil yang mampu digenggam sebelah tangan inilah pengaruh dunia dapat mendominasi anak kita jika sejak kecil terbiasa mengoperasikan gadget ini. memang ada pengaruh positifnya namun percayalah bahwa pengaruh positif atau manfaatnya sangat kecil dibanding mudhorotnya. Tidak apa jika anak kita dianggap jadul atau kuno atau gaptek hanya karena tidka punya GADGET. tetapi kita bisa menyelamatkan pribadinya kelak menjadi seorang dewasa yang sukses bahagia dan kontributif membangun peradaban.
Dari sebuah buku psikiatri: bahwa anak-anak yang sakit kejiwaan baynak yang dipengaruhi oleh sebuah gadget. Gadget sangat kuat pengaruhnya ke otak yang akan merusak bagian otak yang mengatur nilai-nilai sosial. Anak yang kecanduan GADGET akan mudahmenjadi anak yang temperamental, egois, mudah melampiaskan rasa kesal dan marah, pornografi, pornoaksi, dll.

Tuning yang paling kuat/efektif: Keteladanan 
Allah menganugerahi kesempatan pertama kepada kita untuk men"Tuning" anak kita, karena kita diberiNya yang namanya Autoritas, maka manfaatkan sebaik-baiknya dengan cara menjadikan kita teldan yang baik bagi anak kita.

Pada ilmu bahwa kreasi itu selalu dibentuk 2x:
Pertama; kreasi dalam pikiran daam bentuk rencana/design
Kedua: keasi saat action

Untuk segala sesuatu yang berharga dan penting bagi kita, maka kita akan serius dan benar-benar mempersiapkan kreasi yang pertama/tahap design/planning, untuk memperkuat thaap berikutnya pada saat action.
misal kita akan bisnis, nah jika kita anggap bisnis kita itu penting maka kita akan membuat bisnis plan yang kuat dan jelas agar bisnis kita sukses.
Pertanyaannya< seberapa penting dan berhargakah anak kita?

Prinsip pembentukan:
1. Islam
2. Sunatullah

Visi:
1. Akhirat,
2. Dunia

Karakter:
1. Pribadi
2. Masyarakat

Tanggungjawab:
1. Pribadi
2. Peradaban

Kenapa design nya harus seperti itu? karena kita adalah umat yang terbaik
Dan yang terbaik adalah: Umat Islam yang paling berfaedah bagi yang lainnya.

Era Kegagalan:
Kapitlaisme: atmosfer kehidupan, sudah penuh ketidakbahagiaan dan krisis multidimensi
Bila tolak ukur sukses adalah: Harta, Tahta dan Cinta, maka banyak penelitian di Eropa yang menghubungkan kesuksesan dengan kebahagian, menghasilkan angka penelitian bahwa banyak orang sukse tetapi menderita/tidak bahagia.

Karena apa? karena konsep kebahagiaan hanya ada pada Islam
Ilmu Islam lah yang membahas dan mengajarkan kebahagian, sedangkan ilmu lain kontennya hanya masalah.

Aturan Islam yang paling membahagiakan, tetapi jika kita berjalan tidak mengikuti aturan maka akan selalu menimbulkan masalah.
Oleh karena itu, Iman merupakan Kunci Kebahagiaan

Bentuk Anak kita menjadi Pribadi Sukses, Bahagia, dan kontributif Membangun Peradaban.

Wassalam,
Eka Wahyuni




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAMAHKE JOGJA MENAMBAH MANIS JOGJA YANG MEMANG MANIS

MamahKe Jogja Menambah Manis Jogja Yang Sesungguhnya Berhati Nyaman. Belakangan ini sedang marak kue ala artis. Kue - kue tersebut bi...